Ospek

Rabu, 16 Mei 2012 0 comments
Setiap mahasiswa baru yang baru masuk ke lingkungan kampus pasti mengalami masa-masa orientasi ataupun masa-masa pengenalan kampus yang biasa disebut mos atau yang lebih sering kita dengar dengan sebutan ospek. Ospek seyogyanya adalah suatu kegiatan yang diselenggarakan dengan maksud dan tujuan agar para mahasiswa baru mengenal lebih dekat lingkungan kampus yang akan ditempati dan lebih mengenal senior mereka yang lebih terlebih dahulu tinggal di kampus.
            Namun akhir-akhir ini ospek lebih sering dikaitkan atau lebih terkenal sebagai ajang balas dendam senir terhadap juniornya. Sehingga sekarang ospek menjadi momok yang cukup menakutkan bagi para mahasiswa baru yang akan melaksanakannya.
            Seperti halnya dengan yang gue alami. Sebelum gue keterima di STAN, gue udah terlebih dahulu ikutan ospek di UGM. Gue dapat kabar dari senior-senior gue kalau fakultas gue, fakultas kehutanan adalah fakultas yang ospeknya paling keras nomor 2 di UGM.
            Di UGM gue ngejalanin ospek selama 3 hari berturut-turut. Ospek yang gue pikir cuma seneng-seneng doang ternyata isinya penuh dengan tugas membuat essay hingga berlembar-lembar yang membuat gue selama tiga hari hanya bisa tidur selama setengah jam. Diawal-awal ospek cukup menyenangkan, berisi pengenalan-pengenalan dan kuliah umum tentang pengenalan universitas oleh beberapa dosen. Sampai akhirnya muncul segerombolan senior dengan pakaian hitam-hitam dengan tampang sangar mereka mulai membentak-bentak, memarahi dan melatih mental kami, merekalah “JAGAWANA” seksi tata tertib yang disegani di fakultas gue. Jagawana terdiri dari kebanyakan cowok. Hampir semua dari mereka memiliki ramput gondrong, ada yang diikat dan ada yang diurai. Gue sempet geli liat mereka, soalnya kalau cewek rambut panjang digerai itu terlihat anggun, tapi kalau cowok rambut panjang digerai menurut gue itu geli!!!. Namun gue berhasil melewati ospek tersebut dengan selamat dan masih utuh.
            Saat diterima di STAN artinya gue juga harus ngejalanin apa yang namanya ospek itu untuk kedua kalinya.  Ospek di STAN apalagi Manado gue rasa bakalan lebih mudah gue jalanin daripada ospek pertama gue di UGM. Alasan gue kenapa gue mikir kalau ospek gue kali ini lebih mudah adalah pertama nggak ada senior yang bakalan balas dendam, kedua, orang yang bakalan ospek gue adalah pegawai yang nggak mungkin bakalan lama-lama ospek gue, karena mereka juga sibuk dengan pekerjaan mereka yang masih menumpuk di kantor.
            Salah satu hal yang paling nggak gue sukai adalah saat ospek kedua gue ini adalah gue harus memangkas habis rambut gue hingga tinggal 1 cm. Hal inilah yang membuat gue merelakan rambut gue ditebas habis oleh tukang pangkas. Setelah potong rambut 1 cm gue jadi jarang bercermin karena gue malu lihat diri gue sendiri yang sangat tidak proporsional dengan potongan rambut seperti itu.
            Hari pertama ospek, gue berangkat dengan teman-teman baru gue dengan menggunakan kaos putih dan celana training biru ditambah sebuah topi merah seragam sesuai instruksi panitia. Jadilah kami semua seperti atlet yang keluar dari panti asuhan dan tertangkap satpol pp sehingga rambut kami digunduli semua.
bentar lagi ketutup rumput semua
            Sampai di kampus yang terlihat hanyalah lautan lampu-lampu taman berjalan yang menyilaukan mata efek dari sinar matahari yang memantul dari kepala-kepala bugil kami semua. Betapa kagetnya gue ketika melihat setengah lusin paskhas atau pasukan militer. Gue baru sadar bahwa yang akan ngospek gue itu adalah komandan dari pasukan paskhas tersebut. Gue langsung meriding, bakalan seperti apa ospek gue kali ini. Perlu lo semua ketahui gue orangnya paling nggak suka sama semua yang berbau militer, mau semi militer kek, mau latihan militer kek, apalagi bau baju seragam militer yang ada keringetnya.
            Gue sampai sekarang nggak tahu apa yang menyebabkan gue sampai sebegitu nggak sukanya sama semua yang berbau militer. Padahal keluarga gue ada yang berasal dari golongan militer. Kakek gue dua-duanya mantan ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Malah satu dari kakek gue adalah pejuang veteran, sampai sekarang dia masih sehat. Gue bangga punya kedua kakek dari golongan militer, tapi bangga bukan berarti harus meneruskan perjuangan mereka dengan gue masuk militer.
            Pernah suatu ketika kakek gue berkata kepada gue, apakah gue mau menjadi seorang ABRI seperti dia dulu sewaktu masih muda. Gue bilang ke kakek kalau gue nggak pernah ada niat sedikitpun untuk masuk kedalam militer, gue orangnya santai nggak bisa serius, kalau gue masuk ke dalam bagian militer, mungkin saat musuh datang menyerang gue masih tidur pulas dan mati sia-sia.
            Kembali ke topik. Komandan dari paskhas tersebut belakangan gue tahu namanya bapak Sutarno. Berbeda dengan pak Tarno yang biasa gue lihat di tv, jika pak Tarno yang ada di tv seorang pesulap kocak yang selalu mengucap “tolong dibantu ya!, bim salabim jadi apa prok prok prok”, pak Tarno yang ini adalah komandan paskhas yang jelas orangnya gagah, sangar, dan pasti disiplin. Sungguh perbedaan yang sangat mencolok antara kedua orang bernama Tarno ini.
            Ospek gue hari itu diawali dengan baris-baris atau pbb dibawah teriknya sinar matahari. Mungkin gue adalah satu-satunya orang yang paling nggak tahu soal baris-berbaris. Waktu SD dulu aja tiap kali berbaris sebelum masuk kelas pasti gue yang barisnya paling nggak lurus sendiri, gue nggak tahu kenapa mungkin otak gue yang nggak lurus atau bentuk otak kanan dan otak kiri gue nggak simetris. Gue dan seluruh temen gue saat itu dijemur di bawah teriknya matahari, mirip kayak ikan asin botak yang lagi dijemur, bedanya gue dan temen-temen gue nggak dilalerin. Dengan panas yang seperti ini nggak salah kalau temen gue yang tadinya kulitnya putih jadi item, dan temen gue yang tadinya kulitnya item berubah jadi ungu.
            Gue ingat saat itu gue mencoba atau tepatnya dipaksa makan ala militer untuk pertama kalinya. Sungguh cara makan yang menurut gue nggak membangkitkan selera dan sangat susah. Saat makan gue di haruskan duduk dengan tegap dan cepat. Buat duduknya aja udah lumayan bikin pegel apalagi untuk makan dengan cepat. Gue terpaksa menelan langsung makanan tanpa sempat mengunyah, ya lumayan lah buat pengalaman aja.
            Ospek selama tiga hari berlalu begitu cepat, nggak terasa gue udah dapet lumayan banyak teman baru di Manado. Ternyata gue juga berhasil beradaptasi dengan cepat dengan teman-teman baru gue disini. Gue jadi tahu karakter dan sifat teman-teman baru gue lewat ospek tiga hari itu.
            Semua pertanyaan yang gue pikirkan sewaktu akan berangkat ke Manado terjawab semua disini. Apakah gue mampu mendapatkan teman-teman yang sama asiknya dengan teman-teman gue sebelumnya, apakah gue bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan gue sekarang, semuanya sudah terjawab sekarang. Sekarang gue punya temen yang sama asiknya dengan temen-temen gue sebelumnya, dan gue udah bisa beradaptasi dengan lingkungan baru gue sekarang disini, buktinya gue bisa bertahan sampai sekarang disini.
            Ospek berakhir dan ditutup oleh Kepala Balai Diklat Keuangan Manado. Sekarang gue udah resmi dan termasuk dalam keluarga besar Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Sekarang di jidat gue udah ada stempel “Hak Milik Negara”.

0 comments:

Poskan Komentar

 

©Copyright 2011 Ama(s)tory | TNB