Manado oh Manado

Rabu, 16 Mei 2012 0 comments
Manado oh manado

            Indonesia merupakan Negara yang terdiri dari ribuan pulau, puluhan provinsi dan ratusan daerah. Setiap daerah memiliki kebiasaan yang berbeda-beda. Namun dengan perbedaan itulah yang membuat ragam dan persatuan di Indonesia. Tapi terkadang tak semua perbedaan bisa menyatukan dan bisa diterima oleh setiap orang. Perbedaan akan menjadi indah apabila kita bisa menghargai dan menghormati perbedaan tersebut. Akan tetapi perbedaan bisa menimbulkan perpecahan apabila kita tidak bisa saling menghargai dan menghormati perbedaan.
            Gue terbangun saat pesawat yang gue tumpangi landing di bandara internasional Samratulangi Manado. Pesawat gue tiba di Manado tepat pukul jam 12.00 WITA, waktu yang saat pas untuk makan siang, dari pagi gue belum sarapan, karena pesawat gue berangkat dari Jakarta pukul 05.45, siapa yang pernah ke bandara sepagi itu? Sampai di Manado gue buru-buru eksis di facebook dan twitter.
            “Happy landing in Samratulangi International Airport”.
            Kesenangan gue cuma berlangsung sebentar. Setelah mengambil bagasi di bandara kesenangan gue berbalik 180 derajat. Gue bingung mau kemana sehabis dari bandara. Akhirnya gue memutuskan untuk mencari hotel untuk bermalam, dan bersiap untuk besok registrasi ulang di STAN Manado.
            Pagi pertama di Manado gue lewati dengan meminum secangkir kopi di hotel. Gue buru-buru mencari alamat dimana Balai Diklat Keuangan Manado yang mana akan menjadi kampus gue. Alangkah kagetnya gue ketika melihat calon kampus gue itu berada di tengah-tengah hutan, di sekelilingnya diputari oleh pohon kelapa yang menjulang tinggi. Kampus gue ini memang bukan persis di tengah kota, tapi berada di pinggiran kota, ya benar pinggir banget. Semua yang ada di pikiran gue waktu di bilang nyokapa kalau kota Manado itu indah semuanya hilang. Gue merasa seakan-akan dibohongi oleh nyokap dan google yang menyatakan kalau Manado itu kota yang indah. Sesampainya disana gue bertemu calon teman-teman gue yang sama-sama akan melakukan registrasi ulang. Setiap kali gue melihat wajah calon teman-teman gue, mereka terlihat senang, sangat berbeda dengan gue yang saat itu sempat bertanya pada diri sendiri. “Apa gue sanggup ngejalanin ini semua?”.
            Registrasi ulang dimulai, karena gue bangun kesiangan gue dapet kloter yang kedua yang artinya gue harus nunggu lama. Saat nunggu lama tersebut gue mulai kenal beberapa temen. Mereka ngajakin gue untuk cari kosan atau cari kontrakan untuk tempat tinggal gue sewaktu pendidikan di sana. Nyari kos-kosan di tempat yang belum sama sekali pernah gue jamah tu susah banget, rasanya mirip udah lama-lama ngupil eh ternyata nggak dapet upilnya. Gue tanya sama orang-orang dan akhirnya gue bingung karena nggak tahu bahasa mereka. Satu-satunya bahasa manado yang gue tahu cuma ngana yang artinya kamu. Gue sempet nanya ke salah seorang cewek yang kira-kira seumuran sama gue, orangnya cantik, putih, tinggi, dan agak chinesse. Memang bener omongan nyokap kalau cewek Manado itu cantik-cantik. Gue coba tanya sama tu cewek dengan sok-sokan pake bahasa Manado.
            “Maaf mba, ngana pe bodi poco-poco”.
            Pertanyaan gue tadi berhujung pada perginya cewek tersebut, mungkin dia ngerasa risih, atau mungkin malah dia pulang karena mules begitu lihat gue. Waktu gue lagi nyari kosan, gue hampir aja salah pilih kos, karena kata orang kosan yang hampir gue tempati itu rumah berhantu. Nggak kebayang gue kalau setiap malem minggu pas gue lagi keramas malem-malem di kamar mandi tiba-tiba muncul kuntilanak ataupun suster yang juga ikutan keramas.
            Hari itu gue habiskan dengan mendapatkan kos dan registrasi ulang. Hari pertama yang cukup melelahkan dan mengesankan buat gue yang baru pertama kalinya ke Manado.
            Hari kedua di Manado gue harap hari ini lebih mengesankan dibanding hari sebelumnya. Hari ini gue mulai dengan move on dari hotel ke kosan gue yang baru. Di kosan udah ada dua temen gue yang udah terlebih dahulu tinggal disana. Kamar kosan gue lumayan sempit dengan ukuran 3x3 m, ya cukuplah kalau cuma buat tidur dua orang. Oh iya gue sekamar berdua sama temen gue, dia temen satu SMA gue dulu. Dia tahu gue tapi gue nggak begitu tahu dia waktu dulu di SMA. Mungkin itu karena gue terlalu populer waktu dulu di SMA, populer sebagai siswa yang berandal dan sering masuk ruang bp tepatnya.
            Di hari kedua ini gue berniat membuktikan omongan nyokap, kalau kota Manado itu kota yang indah. Setelah ngeberesin barang bawaan gue di kosan gue langsung pergi ke pusat kota Manado. Gue nggak tahu banyak tentang kota Manado dan yang gue tahu tentang kota Manado setelah gue kosultasi sama mbah google adalah Bunaken dan cewek Manado yang cantik-cantik.
            Gue berharap bisa mengerti bagaimana watak dan karakter orang Manado dan bagaimana sifat dan kebiasaan orang Manado, sebagai bekal gue tinggal di Manado selama satu tahun.
            Perjalanan dari kosan gue ke kota cukup jauh sekitar 30 menit dengan menggunakan taksi. Ditengah perjalanan gue mulai melihat indahnya kota Manado. Sampai di Manado gue sempat telepon bokap, mau tanya-tanya tempat mana yang bagus buat main-main di Manado. Bokap paling tahu kalo soal tempat-tempat yang bagus. Ditengah kebingungan gue yang sok-sokan jadi turis nyasar di Manado, gue melihat daerah pertokoan dan mall yang sangat panjang dipinggir pantai,  daerah itu disebut Boulevard.
Mata gue tertuju pada sebuah restoran cepat saji MCD yang terletak persis di pinggir laut. Gue melihat jam, waktu yang pas untuk makan siang. Gue masuk dan memesan satu paket panas komplit dengan telur yang dibubuhi merica. Gue menikmatinya perlahan sambil menikmati indahnya sunset di kota Manado, dengan diiringi angin laut yang menambah kenikmatan dan membuat gue merasa betah saat itu.
Semakin larut malam suasana kota Manado semakin ramai oleh kerlap-kerlip lampu dan derungan suara kendaraan bermotor yang semakin memadati jalanan kota. Kota Manado ternyata lebih indah apabila dinikmati dimalam hari.
Satu hal yang membuat gue semakin ingin menghabiskan malam itu di Manado adalah mata gue seperti dimanjakan dengan banyaknya cewek-cewek Manado yang cantik-cantik. Hal itu membuat gue semakin kerasan dan sebagai salah satu faktor yang akan membuat gue kerasan tinggal di Manado selama satu tahun pendidikan ini.
            Malam semakin larut gue putuskan untuk balik ke kosan untuk istirahat. Saat perjalanan pulang gue berpikir, walaupun Manado berbeda dengan Jawa, kebiasaan di Manado dan di Jawa berbeda, sifat, watak , karakter orang Manado berbeda dengan orang Jawa, seharusnya gue tidak mempermasalahkannya. Gue nggak boleh menyalahkan keadaan dengan adanya perbedaan ini. Gue juga sering denger kata-kata “indahnya perbedaan” seharusnya gue bisa menemukan keindahan diantara perbedaan ini.
            Perbedaan akan indah apabila kita bisa saling menghargai dan menghormati perbedaan itu sendiri, yang gue butuhkan saat ini adalah gue harus bisa menerima keadaan, gue harus bisa beradaptasi dengan perbedaan yang gue jalani saat ini, supaya gue bisa menemukan arti indahnya perbedaan disini.

0 comments:

Poskan Komentar

 

©Copyright 2011 Ama(s)tory | TNB